Momentum Wisuda di Universitas Palangka Raya Menjadi Peluang Usaha yang Menghasilkan
Di tengah suasana penuh kebahagiaan dan kebanggaan, momentum wisuda di Universitas Palangka Raya menjadi peluang usaha yang menguntungkan bagi sejumlah warga. Di kawasan Jalan Hendrik Timang, tepatnya di sekitar Aula Palangka Universitas Palangka Raya, puluhan pedagang berjejer menawarkan berbagai produk yang disesuaikan dengan kebutuhan perayaan kelulusan.
Buket bunga, buket uang, hingga buket boneka menjadi dagangan utama yang paling mencuri perhatian. Warna-warni rangkaian tersebut tersusun rapi di pinggir jalan dan menjadi incaran keluarga wisudawan. Tidak hanya itu, sejumlah ide sederhana juga bermunculan. Warga memanfaatkan berbagai cara kreatif untuk menarik minat pembeli, mulai dari variasi desain buket hingga tambahan konsep yang dapat dinikmati pengunjung saat merayakan kelulusan.
Beragam Jenis Buket yang Dijual
Salah satu pedagang buket, Wini, mengaku telah membuka lapaknya sejak pagi hari dan bertahan hingga seluruh kegiatan wisuda selesai. “Biasanya sampai semua sudah bubar,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Sabtu (11/4/2026).
Dalam sehari, ia mampu menjual lebih dari 20 buket kepada pembeli yang sebagian besar merupakan keluarga wisudawan. Dari hasil penjualan tersebut, omzet yang diperoleh mencapai sekitar Rp3 juta. “Sudah sekitar 20-an lebih yang terjual,” katanya.
Wini menjelaskan, jenis buket yang dijualnya cukup beragam, mulai dari buket bunga, buket uang, buket boneka hingga buket kombinasi. Dari semua produk tersebut, buket uang menjadi yang paling diminati. “Yang paling laku itu buket uang sama buket bunga,” jelasnya.
Menurutnya, buket uang memiliki nilai lebih karena selain menjadi hadiah, isi di dalamnya juga dapat dimanfaatkan langsung oleh penerima. Harga buket yang ditawarkan pun bervariasi. Untuk buket uang berisi 10 lembar, dijual sekitar Rp80 ribu. Sementara buket dengan tambahan boneka bisa mencapai Rp100 ribu. Jika jumlah uang dalam buket semakin banyak, maka harga juga ikut meningkat. Untuk buket dengan 50 lembar uang, harga jasanya bisa mencapai sekitar Rp250 ribu. “Semakin banyak lembarannya, semakin mahal,” tambahnya.
Kreativitas Lain yang Muncul
Selain buket, kreativitas warga juga terlihat dari pemanfaatan kaca cembung sebagai media berfoto oleh pengunjung. Dengan biaya sekitar Rp5.000, pengunjung dapat mengabadikan momen wisuda dengan efek pantulan unik.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana masyarakat mampu membaca peluang pasar yang muncul dari sebuah momentum. Produk yang ditawarkan tidak hanya bersifat fungsional, tetapi juga memiliki nilai emosional yang relevan dengan suasana kelulusan.
Perilaku Pembeli yang Lebih Selektif
Meski demikian, perilaku pembeli pada momen wisuda kali ini terlihat lebih selektif. Tidak sedikit pengunjung yang tampak berkeliling terlebih dahulu untuk membandingkan harga antar lapak sebelum memutuskan membeli.
Salah seorang kerabat wisudawan, Angela (26), mengaku sempat mempertimbangkan beberapa pilihan sebelum membeli buket. Ia membandingkan antara buket bunga dan buket snack yang juga banyak dijual di lokasi. Menurutnya, buket snack dinilai lebih bermanfaat karena dapat langsung dikonsumsi. “Kalau snack kan bisa dimakan, lebih kepakai. Kalau bunga memang cantik, tapi biasanya cuma untuk foto saja,” ujarnya.
Pilihan produk pun cenderung lebih rasional. Buket snack maupun buket uang yang memiliki nilai guna menjadi lebih diminati karena tidak hanya berfungsi sebagai simbol hadiah, tetapi juga dapat dimanfaatkan secara langsung oleh penerima.
Strategi Pedagang yang Adaptif
Di sisi lain, pedagang juga terlihat menyesuaikan strategi. Mereka menyediakan variasi harga, pilihan desain, hingga kombinasi produk agar tetap menarik di tengah persaingan dan perubahan perilaku konsumen.
Wini sendiri telah menjalankan usaha buket sejak tahun 2019. Selain berjualan saat wisuda, ia juga aktif membuka lapak di berbagai acara lain seperti perpisahan sekolah serta melayani penjualan dari rumah. “Biasanya buka stand di acara-acara, di rumah juga ada jualan offline,” katanya.
Usahanya tersebut berlokasi di kawasan Jalan Jalak, Palangka Raya.
Tantangan dan Kreativitas
Meski penjualan tetap berjalan, Wini menilai suasana wisuda kali ini tidak seramai sebelumnya. Ia menyebut hal tersebut dipengaruhi oleh jumlah wisudawan dan kondisi ekonomi. “Kalau dibandingkan sebelumnya, sekarang agak sepi. Mungkin karena jumlah wisudawan lebih sedikit dan juga faktor ekonomi,” ujarnya.
Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha kecil. Namun di sisi lain, kreativitas tetap menjadi kunci untuk bertahan di tengah persaingan. Dengan menghadirkan variasi produk, menyesuaikan harga, serta memanfaatkan momentum yang ada, para pedagang tetap berupaya menarik minat pembeli.
Momentum wisuda pun tak hanya menjadi hari bahagia bagi para lulusan, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk menciptakan peluang usaha dari kreativitas yang mereka miliki.











