Kenaikan Harga Belacan di Bangka Belitung Menghebohkan
Belacan, yang dikenal juga sebagai terasi, menjadi sorotan masyarakat Bangka Belitung akhir-akhir ini karena kenaikan harga yang sangat signifikan. Seorang warga Pangkalpinang, Anta Wirja, membagikan pengalamannya tentang harga belacan yang mencapai Rp250 ribu hingga Rp300 ribu per kilogram di Pasar Kota Pangkalpinang. Hal ini membuatnya terkejut dan memutuskan untuk membuat konten video yang kemudian viral di media sosial.
Pengalaman Pribadi dan Viralnya Konten
Anta mengungkapkan bahwa awalnya ia hanya ingin berbagi informasi dari lapangan tanpa menyangka akan viral. Konten tersebut menarik banyak perhatian, dengan jumlah penonton mencapai 50 ribu dan banyak yang membagikannya kembali. Ia bahkan tidak menyangka bahwa videonya akan masuk tayangan televisi nasional.
“Saya tidak menyangka bisa sampai sejauh itu,” ujar Anta. Menurutnya, reaksi masyarakat terhadap kenaikan harga belacan lebih besar dibandingkan komoditas lain, meskipun harga BBM dan kebutuhan pokok lainnya juga naik.
Peran Belacan dalam Kehidupan Masyarakat
Di Bangka Belitung, belacan bukan sekadar bumbu pelengkap. Hampir seluruh masakan tradisional menggunakan bahan ini, seperti lempah kuning, lempah darat, hingga sambal. Anta menyebut belacan sebagai “kebutuhan pokok ke-10” bagi masyarakat setempat.
Jelang Idul Fitri 2026, kenaikan harga belacan mulai terasa. Awalnya ia hanya mendengar kabar dari tetangga, namun setelah memastikan langsung ke pasar, ia yakin bahwa harga benar-benar meningkat.
Faktor Penyebab Kenaikan Harga
Menurut Rama Karna Maulana, Kepala Bidang UMKM Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bangka Selatan, kenaikan harga belacan dipicu oleh terbatasnya pasokan bahan baku utama, yakni udang rebon. Kondisi ini menyebabkan produksi belacan menurun.
“Kalau di Bangka Selatan, kisaran Rp120 ribu sampai Rp150 ribu per kilogram. Sekarang mulai turun di angka Rp100 ribu sampai Rp120 ribu,” jelas Rama. Ia menjelaskan bahwa kondisi ini merupakan siklus tahunan yang dipengaruhi musim. Saat musim udang melimpah, produksi meningkat dan harga cenderung turun. Sebaliknya, ketika pasokan menurun, harga akan naik.
Proses Pembuatan Belacan
Proses pembuatan belacan dilakukan secara manual oleh para pembuat lokal. Darwati (57), atau yang dikenal sebagai Cik Dar, menjelaskan bahwa tahapan awal dimulai dari suaminya yang mencari udang sebagai bahan baku utama. Mereka menggunakan alat sederhana seperti kayu dua batang, jaring kecil, dan drum plastik untuk menangkap dan menyimpan udang.
“Lakiku biasa kalau musim udang mulai dari subuh, biasanya pukul 05.00 WIB sudah cari udang di pantai,” kata Cik Dar. Ia mengungkapkan bahwa saat musim, mereka bisa mendapatkan sekitar 30 kilo udang dalam dua jam. Namun, pada musim yang tidak ideal, hasilnya bisa jauh lebih sedikit.
Kualitas dan Permintaan Tinggi
Meski harga belacan tinggi, permintaan tetap tinggi. Belacan asal Toboali, Bangka Selatan, masih menjadi favorit masyarakat karena kualitasnya yang terjaga. Meski mahal, orang tetap mencari karena kualitasnya sudah terjamin.
“Kalau murah tapi rasanya kurang, tetap orang pilih yang enak. Jadi kualitas tetap nomor satu,” ujar Anta. Ia juga menyebut bahwa belacan dengan warna kemerahan dan aroma khas biasanya dihargai lebih tinggi dibandingkan yang berwarna gelap.
Tantangan Produksi
Cik Dar mengatakan bahwa proses penangkapan udang dilakukan secara manual dengan alat sederhana. Suaminya hanya menggunakan kayu dua batang, jaring kecil, dan drum plastik untuk menangkap udang. Proses ini dilakukan saat air surut, sehingga drum mengapung dan mudah dikendalikan.
“Biasanya nyungkur saat air surut atau proses air surut, dengan air setinggi lutut atau pinggang, jadi drum itu mengapung. Yang berat itu cuma bawa kayu jaring,” katanya. Ia menambahkan bahwa saat musim udang, banyak orang yang melakukan aktivitas ini bersama-sama.










