Pengalaman Misi Kesenian Aceh di Teheran, Iran
Pada tahun 2006, sebuah misi kebudayaan nasional yang melibatkan Tim Kesenian Aceh berangkat ke Teheran, Iran. Keberangkatan tersebut dilakukan atas undangan dari Bapak Jero Wacik selaku Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia (Menbudpar RI) dalam rangka Indonesian Festival 2006. Acara ini bertujuan untuk menarik wisatawan mancanegara, khususnya dari kawasan Timur Tengah, untuk berkunjung ke Indonesia.
Tujuan utama pemerintah dalam mencanangkan program ini antara lain:
* Warga negara asal Timteng kesulitan melakukan perjalanan ke Eropa dan Amerika karena alasan keamanan.
* Indonesia ingin menunjukkan bahwa negara ini aman bagi pengunjung, terutama muslim.
* Menunjukkan komitmen kerjasama antar dua negara.
* Dalam rangka membalas kunjungan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad ke Indonesia di tahun tersebut.
Rombongan yang terdiri dari panitia, peragawati, chef, para peserta seni dari berbagai daerah, serta wartawan, berangkat dari Meuligoe Gubernur Aceh pada hari Kamis (20/7/2006). Rombongan tersebut tiba di Doha, Qatar, setelah perjalanan selama 8 jam. Di Doha, mereka mengikuti city tour selama 6 jam dengan cuaca yang cukup panas, yaitu 40°C.
Selama city tour, rombongan mengunjungi beberapa tempat menarik seperti Camel Market, Qatari Market, Khalifah Stadium, dan Taman tepi laut. Selain itu, mereka juga melihat proses penyulingan air laut menjadi air tawar yang digunakan oleh penduduk Doha. Hal ini membuat mereka menyadari bahwa harga air mineral di Qatar sangat mahal.
Setelah city tour selesai, rombongan melanjutkan perjalanan ke Teheran, Iran, menggunakan pesawat Qatar Airways Boeing 737-400. Pesawat mendarat mulus di Imam Khomeini International Airport pada pukul 15.30 waktu Iran. Setelah itu, rombongan menginap di Ferdossi Grand International Hotel di pusat kota Teheran.
Esok harinya, tanggal 24 Juli 2006, seluruh rombongan dijemput untuk menghadiri Open Ceremony Indonesian Festival 2006 di Nia Varan Building Culture Center. Tim Kesenian Aceh mendapat perhatian lebih karena menggunakan batik Aceh yang merupakan hasil karya tangan para ibu pembatik korban tsunami.
Acara ini diselenggarakan dengan pameran budaya Indonesia yang mencakup pakaian adat, pelaminan daerah, peragaan busana muslim, pembuatan batik Pekalongan, dan masakan Aceh serta Minang yang dimasak oleh Chef Rudy Choiruddin. Selain itu, ada pameran foto, lukisan, dan souvenir.
Pada hari Selasa (25/7/2006), Tim Kesenian Nusantara tampil dalam acara ladies program di Wisma Duta KBRI. Tarian Seudati, Saman, dan Rapai Geleng dari Aceh, serta Tari Rampak Rapai dan Tari Piring dari Sumatera Barat, menjadi suguhan menarik.
Puncak acara adalah Gala Dinner Indonesian Festival in The Night 2006 yang berlangsung di Laleh International Hotel pada malam Rabu (26/7/2006). Acara ini turut dihadiri oleh Menteri Kebudayaan Iran, para Duta Besar Negara sahabat, serta undangan khusus lainnya. Semua tim kesenian daerah tampil dalam performance yang sempurna, membuat tamu-tamu yang hadir takjub hingga larut malam.
Selama lima hari di Teheran, kami menyaksikan kondisi ekonomi rakyat Iran yang tergolong makmur meskipun terkena embargo ekonomi. Pemerintah Iran sangat concern di bidang pendidikan dan kesehatan dengan menggratiskannya. Biaya telepon, listrik, dan air dibayarkan setiap dua bulan sekali dengan jumlah yang relatif kecil. Harga minyak kendaraan di Iran jauh lebih murah dibandingkan Indonesia.
Kota Teheran terlihat bersih dengan paduan bangunan kuno dan modern. Kami juga menyaksikan bahwa tidak ada satu pun produk buatan Amerika Serikat di Teheran. Semua kebutuhan berasal dari dalam negeri atau impor dari negara-negara seperti Perancis, Jerman, Korea, atau Jepang dalam volume terbatas.
Pada tanggal 28 Juli 2006, seluruh rombongan kembali ke tanah air dengan membawa kenangan yang sulit dilupakan. Misi kebudayaan ini memberikan wawasan baru tentang budaya dan kehidupan masyarakat Iran yang unik dan berbeda dari yang kami bayangkan sebelumnya.











