Penurunan Jumlah Pemudik Menjelang Lebaran 2026
Jumlah pemudik menjelang Lebaran 2026 tercatat mengalami penurunan, menurut hasil survei Badan Kebijakan Transportasi Kementerian Perhubungan. Faktor ekonomi menjadi salah satu alasan utama masyarakat memilih untuk tidak pulang kampung seperti biasanya. Penurunan ini sudah terlihat sejak tahun 2025, di mana angka pemudik merosot hingga hampir 50 juta orang setelah sempat melonjak drastis pada 2024 dengan asumsi sekitar 193 juta pemudik.
Situasi tersebut kembali terulang, yaitu dari 146,4 juta orang pemudik tahun lalu menjadi 143,9 juta orang pemudik tahun ini. Hal ini terjadi meskipun pemerintah mengklaim pertumbuhan ekonomi yang baik. Pengamat ekonomi dan kebijakan publik dari Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai situasi ini sudah terlihat pascapandemi. Namun dari tahun ke tahun, tekanan ekonomi yang berdampak pada lesunya daya beli juga turut memengaruhi keputusan masyarakat.
Di sisi lain, survei dari Bank Indonesia pada awal 2026 juga memperlihatkan adanya kenaikan proporsi penggunaan pendapatan untuk tabungan. “Masyarakat itu sudah mengantisipasi kondisi ekonomi ke depan akan sulit dengan banyak menabung. Jadi, kalau misalnya spending lebaran ini berkurang, salah satu faktornya karena masyarakat mengantisipasi situasi sulit ke depan,” kata Wijayanto.
Prediksi Menteri Perhubungan
Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, dalam sidang kabinet paripurna tetap optimistis jumlah pemudik akan melampaui hasil survei. “Angka ini memang menurun 1,75% dibandingkan survei pada tahun 2025 sekitar 146 juta. Namun demikian pada realisasi tahun 2025 justru mencapai 154 juta. Artinya mobilitas masyarakat pada masa lebaran cenderung melampaui angka survei,” ucap Dudy.
Alasan Masyarakat Tidak Mudik
Okie dan Ratna merupakan dua ibu yang memilih tidak mudik pada tahun ini karena sejumlah pertimbangan ekonomi. Keputusan Okie tetap di rumah saja ketika perayaan Lebaran dibuat untuk pertama kalinya tahun ini. Pemicunya adalah pemutusan hubungan kerja yang dialami suaminya pada Agustus 2025. Hal itu kemudian mengubah perencanaan keuangan keluarga. “Dulu, bisa rutin ada budget tiap tahun mudik. Sekarang, hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari,” ucap Okie.
Ratna punya alasan berbeda. Semula, ia dan suami masih berencana untuk berkendara dari Bekasi menuju Pekanbaru untuk berkumpul bersama keluarga besar pada Idul Fitri ini. Namun memasuki Februari 2026, ia berpikir ulang mengingat anak bungsunya masuk SD dan diikuti kabar serangan AS ke Iran yang dikhawatirkan berimbas pada kenaikan harga BBM. “Sebenarnya kalau uang sekolah itu sudah ada hitung-hitungannya. Tapi kan kalau baca berita itu, ada kabar krisis. Eh kok ini Amerika [perang] sama Iran, terus berita [dampaknya ke] BBM. Jadi, mikirnya ya in this economy, lebih baik ongkos mudiknya buat ditabung dulu karena enggak tahu ke depannya gimana,” tutur Ratna.
Data Pemudik dan Moda Transportasi
Data yang tergambar dari Sistem Informasi Transportasi Terintegrasi Kementerian Perhubungan menunjukkan penurunan jumlah keberangkatan penumpang terhitung dari H-8 hingga H-3. Dibandingkan periode yang sama pada 2025, jumlah penumpang mudik dari berbagai moda transportasi berkurang dari enam juta pemudik menjadi 5,99 orang yang melaju pulang kampung.
Pada 2026, moda perkeretaapian yang pergerakan penumpangnya meningkat dibandingkan periode H-8 sampai H-3 pada 2025, yakni mencapai 1.199.150 orang dari 1.070.699 orang. Untuk moda yang paling banyak diminati tetap angkutan yang melibatkan penyeberangan. Dari 2025 hingga saat ini, jumlahnya selalu unggul dibandingkan moda transportasi lain.
Adapun pada 2026, pergerakan penumpang melalui angkutan sungai, danau, dan penyeberangan (SDP) juga naik tercatat 1.721.150. Tahun lalu, pergerakan penumpang pada periode yang sama mencapai 1.701.766.
Upaya Pemerintah untuk Memacu Ekonomi
Perputaran uang pada periode mudik Lebaran 2026 ini diprediksi bisa mencapai Rp 148 triliun hingga Rp 160 triliun dari asumsi pemudik yang mencapai 143,9 juta orang. Asumsi ini meningkat dibanding 2025 yang perputaran uangnya sekitar Rp137,97 triliun hingga Rp145 triliun. Perputaran uang tahun ini bisa lebih tinggi apabila konsumsi saat Ramadhan ikut diperhitungkan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto meyakini perputaran uang pada mudik Lebaran 2026 ini tetap stabil. Pemerintah pun meluncurkan program “Belanja di Indonesia Aja” (BINA) periode Ramadhan-Idul Fitri 2026 untuk menjaga daya beli masyarakat dan memacu pertumbuhan ekonomi nasional. Program ini ditargetkan mencapai nilai transaksi hingga Rp53 triliun.
Program ini akan berlangsung selama 25 hari, yakni dari 6-30 Maret 2026 dengan melibatkan puluhan ribu gerai ritel di 414 pusat perbelanjaan di seluruh Indonesia. “Kami berharap ini akan terus meningkatkan konsumsi dalam negeri,” ucap Airlangga.
Selain itu, Airlangga juga mengumumkan total anggaran untuk stimulus perekonomian periode Lebaran 2026 mencapai Rp 911 miliar. Dana tersebut meliputi diskon transportasi untuk tiket kereta api, kapal laut, dan pesawat. Ada juga bantuan untuk sebanyak 35,04 juta keluarga penerima manfaat (KPM) selama Ramadhan dan Idul Fitri 2026. Program menggelontorkan Rp14,09 triliun untuk menjaga ketahanan pangan masyarakat selama Ramadhan.

Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."











