My WordPress Blog

Makanan Kekinian Bandung: Sempol Ayam dan Mie Jebew

Bandung: Laboratorium Kreativitas Kuliner Jajanan Kaki Lima

Bandung dikenal sebagai kota yang kaya akan inovasi kuliner, terutama dalam hal jajanan kaki lima. Dari kota ini lahir berbagai makanan lezat yang menggunakan aci (tepung tapioka) sebagai bahan dasar, seperti Cilok, Cireng, Basreng, Bacol, hingga Seblak. Makanan-makanan ini tidak hanya populer di Bandung, tetapi juga menyebar ke berbagai daerah di Indonesia.

Popularitas jajanan tersebut semakin berkembang dengan munculnya varian rasa yang sesuai dengan selera pasar. Setiap tahun, khususnya menjelang bulan Ramadhan, tradisi berburu takjil dan ngabuburit membuat jajanan kaki lima semakin ramai dan diminati.

Sempol Ayam dan Mie Jebew: Jajanan Baru yang Menarik Perhatian

Belakangan ini, dua jajanan baru mulai mencuri perhatian kalangan remaja dan anak-anak, yaitu Sempol Ayam dan Mie Jebew. Meskipun keduanya masih tergolong pendatang baru dibandingkan jajanan legendaris Bandung lainnya, keduanya perlahan mulai dikenal luas.

Sempol Ayam tampaknya lebih cepat populer karena rasanya gurih dan harganya sangat terjangkau. Satu tusuk biasanya dijual sekitar seribu rupiah, dengan pembelian minimal lima tusuk. Tidak heran jika jajanan ini menjadi favorit pelajar.

Beberapa orang menduga bahwa bentuk dan cara penyajiannya sedikit terinspirasi dari jajanan Korea yang menggunakan tusuk sate. Namun para pedagang tetap mengolahnya dengan cita rasa khas Bandung.

“Sempol ayam itu dibuat dari daging ayam yang dihaluskan, dicampur sedikit aci dan telur,” ujar Ujang, pedagang asal Cedok, Kabupaten Bandung, yang kini berjualan sempol setelah sebelumnya bekerja di proyek bangunan.

Adonan tersebut kemudian dililitkan pada batang tusuk sate, lalu digoreng sebentar hingga matang. Setelah itu barulah ditaburi aneka bumbu sesuai selera, mulai dari rasa pedas asin, jagung bakar hingga taburan keju. “Bumbunya bisa dicampur sesuai selera pembeli,” kata Ujang.

Mie Jebew: Sensasi Pedas yang Menggigit

Jika Sempol Ayam dikenal gurih, maka Mie Jebew terkenal karena sensasi pedasnya yang ekstrem. Bahkan banyak pembeli mengaku bibir mereka bisa terasa “jontor” setelah menyantapnya.

Satu porsi Mie Jebew biasanya berisi mie instan yang dipadukan dengan bakso, pangsit dan siomay, lalu disiram kuah bumbu pedas khas yang mengingatkan pada cita rasa ramen Korea. Meski pedas, harganya tetap ramah di kantong, berkisar antara Rp8.000 hingga Rp10.000 per porsi.

Lokasi Favorit untuk Berburu Kuliner

Bagi pecinta jajanan Bandung, tempat berburu kuliner ini tidak sulit ditemukan. Kawasan Dalem Kaum Alun-Alun Bandung menjadi salah satu lokasi favorit, terutama sejak area tersebut berkembang menjadi ruang terbuka yang ramai dikunjungi warga.

Selain itu, jajanan serupa juga mudah ditemukan di kawasan perumahan Mekarwangi sekitar Cibaduyut maupun di sepanjang Jalan Sayati di Kabupaten Bandung.

Pada bulan Ramadhan, kawasan-kawasan tersebut hampir selalu dipadati pengunjung yang datang untuk ngabuburit sambil berburu takjil. Ada yang membeli untuk dibawa pulang, tetapi tidak sedikit pula yang menikmatinya langsung di tempat bersama teman-teman.

Kreativitas Jajanan Aci

Jika diperhatikan, jajanan khas Bandung memang banyak berakar dari olahan aci yang kreatif. Selain Cireng (aci goreng), ada pula Cibay (aci banjur ayam), Cilok (aci dicolok), hingga Ciburah yang disajikan dengan kuah.

Variasi bakso pun tak kalah beragam, mulai dari Basreng (bakso goreng), Babum (bakso bumbu), Basah yang terkenal sangat pedas, hingga Bacol atau bakso colok.

Namun di antara sekian banyak pilihan itu, salah satu jajanan yang paling diburu anak muda tetaplah Seblak Ceker. Keunikan makanan ini terletak pada tingkat kepedasannya yang berlevel, biasanya dari level 1 hingga 5.

“Yang paling disukai biasanya level 4 dan 5. Sangat pedas sekali,” kata Usep, pedagang seblak di kawasan Sayati, Kabupaten Bandung. Menurutnya, mayoritas pembelinya justru remaja putri yang penasaran mencoba sensasi pedas ekstrem.

Dulu bekerja sebagai buruh pabrik, kini Usep lebih menikmati pekerjaannya sebagai penjual seblak. Selain penghasilannya cukup menjanjikan, ia juga bisa menyaksikan langsung bagaimana jajanan khas Bandung terus berkembang dan selalu menemukan penggemar baru dari generasi ke generasi.

Amanda Almeirah

Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *