My WordPress Blog

Mutia Ramadhan – Air Mata Kebahagiaan

Kekuatan dan Makna Menangis dalam Perspektif Islam

Menangis adalah salah satu bentuk ekspresi emosi yang memiliki berbagai tingkatan dalam pandangan Islam. Ada bentuk menangis yang dianggap sebagai perbuatan dosa, seperti menjerit atau meraung-raung akibat musibah tanpa adanya keimanan yang kuat. Namun, ada juga bentuk menangis yang dianggap sebagai perbuatan mulia dan bernilai ibadah.

Menangis karena meratapi dosa masa lalu, merindukan Tuhannya, atau melakukan protes terhadap kebatilan yang tidak bisa diusir, merupakan bentuk tangisan yang positif. Bahkan, tiga jenis tangisan tersebut tidak akan pernah mendekati api neraka. Dalam hadis Nabi Muhammad SAW, disebutkan bahwa ada mata yang diharamkan masuk neraka, yaitu mata yang tidak tidur semalaman dalam perjuangan fi sabilillah dan mata yang menangis karena takut kepada Allah.

Perbedaan Jenis Air Mata

Beberapa penelitian telah dilakukan mengenai air mata. Dua orang dari Jerman dan AS melakukan riset tentang air mata dan menyimpulkan bahwa air mata yang keluar karena kepercik bawang atau cabe berbeda dengan air mata yang keluar karena kecewa dan sedih. Yang pertama tidak mengandung zat berbahaya, sedangkan jenis kedua mengandung toksin atau racun. Para peneliti ini merekomendasikan agar orang-orang yang mengalami rasa kecewa dan sedih lebih baik menumpahkan air mata kekecewaannya.

Jika air mata kesedihan tidak dibuang keluar, maka dapat berdampak buruk bagi kesehatan lambung. Menangis itu indah, sehat, dan simbol kejujuran. Pada saat yang tepat, menangislah sepuas-puasnya dan nikmati, karena tidak selamanya orang bisa menangis.

Menangis sebagai Bentuk Kejujuran dan Kedekatan dengan Tuhan

Orang-orang yang suka menangis sering kali dilabel sebagai orang cengeng. Namun, cengeng terhadap Sang Khaliq adalah positif, sedangkan cengeng terhadap makhluk adalah negatif. Orang-orang yang gampang berderai air matanya ketika terharu mengingat dan merindukan Tuhannya, maka air mata itu melicinkannya menembus syurga.

Air mata yang tumpah karena menangisi dosa masa lalu, maka air mata itu yang memadamkan api nerakanya. Seorang sufi pernah mengatakan, jika seseorang tidak pernah menangis dikhawatirkan hatinya gersang. Salah satu kebiasaan para sufi ialah menangis. Beberapa sufi mata dan mukanya menjadi cacad karena air mata yang selalu berderai.

Ayat Al-Qur’an dan Pesan Nabi Muhammad SAW

Tuhan memuji orang menangis dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Contohnya dalam Surah al-Isra’/17:101, Allah berfirman:

“Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mukjizat yang nyata, maka tanyakanlah kepada Bani Israel, tatkala Musa datang kepada mereka lalu Firaun berkata kepadanya: ‘Sesungguhnya aku sangka kamu, hai Musa, seorang yang kena sihir’.”

Nabi Muhammad SAW juga pernah berpesan jika kalian hendak selamat maka jagalah lidahmu dan tangisilah dosa-dosamu. Ciri-ciri orang yang beruntung ialah ia hadir di bumi langsung menangis sementara orang-orang disekitarnya tertawa kegembiraan.

Dua Jenis Air Mata yang Bernilai Ibadah

Ada dua jenis air mata yang sangat mahal. Pertama, air mata tobat, seperti yang pernah dikatakan, air mata yang memadamkan api neraka. Jeritan taubat yang disertai linangan air mata lebih disukai Tuhan ketimbang gemuruh tasbihnya para ulama, seperti yang pernah diisyaratkan oleh Nabi.

Air mata kedua, dan ini yang paling mahal, yaitu air mata kerinduan yang tumpah karena seseorang terharu dan merindukan Tuhannya. Ia tidak tahu membayangkan bagaimana bisa terjadi tiba-tiba menangis terseduh-seduh merindukan Tuhannya. Ia lupa dosanya, lupa juga surga dan neraka, yang ada dalam benaknya adalah Sang Maha Agung Allah SWT.

Kedua jenis air mata emas ini hanya bisa dialami oleh orang-orang yang mendapatkan anugerah dan hidayah dari Allah SWT. Kita berharap dalam bulan Ramadan ini kita bisa mengoleksi kedua jenis air mata itu sebanyak-banyaknya.

Mari Memeriksa Kondisi Hati

Mestinya di bulan Ramadan ini kita lebih banyak menangis ketimbang ketawa, sekalipun penuh dengan lawak dan banyolan yang disuguhkan oleh media-media TV. Jika air mata selalu kering di atas tumpukan dosa dan maksiat dan jika air mata kerinduan terhadap Tuhan tidak pernah lagi terurai, maka perlu kita melakukan introspeksi.

Apakah kita termasuk orang yang dilukiskan Tuhan sebagai “di dalam hatinya ada penyakit” (fi qulubihim maradh) atau sudah sampai kepada “Allah sudah menutup mati pintu hatinya” (khatamallah ’ala qulubihim). Mari kita memeriksa mata kita, apakah sudah bersahabat dengan syurga atau bersahabat dengan neraka?


Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *