My WordPress Blog
Bisnis  

Kospi Melonjak Turun 8%, Bursa Korea Selatan Terpuruk

Pasar Saham Korea Selatan Mengalami Tekanan Berat

Pasar saham Korea Selatan mengalami tekanan tajam pada awal pekan ini, terutama setelah indeks utama Kospi mengalami penurunan yang signifikan. Hal ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah dan lonjakan harga minyak global, yang membuat para investor lebih waspada terhadap aset berisiko.

Indeks Kospi, yang menjadi indikator utama pasar saham Korea, mencatat penurunan tajam sebesar lebih dari 8% pada perdagangan Senin. Penurunan ini memperpanjang tren pelemahan yang telah terjadi sebelumnya, yaitu merosot hingga 11% dalam seminggu terakhir. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar sedang menghadapi tekanan besar akibat ketidakpastian yang meningkat.

Pelemahan indeks ini dipimpin oleh perusahaan-perusahaan besar seperti Samsung Electronics Co. dan SK Hynix Inc., yang masing-masing mengalami penurunan lebih dari 10%. Bursa Efek Korea kemudian memutuskan untuk menghentikan perdagangan saham Kospi selama 20 menit untuk mencegah kerugian yang lebih besar.

Kecemasan Investor Terhadap Konflik di Timur Tengah

Tekanan terhadap saham-saham Asia secara keseluruhan disebabkan oleh meningkatnya risiko konflik di kawasan Timur Tengah, yang berpotensi mengganggu pasokan energi global. Kepala Eksekutif Fibonacci Asset Management Global, Jung In Yun, menilai bahwa ketidakpastian mengenai durasi konflik yang sedang berlangsung masih menjadi faktor utama pemicu kekhawatiran investor.

“Ini hari yang buruk lagi bagi saham Korea, karena investor khawatir konflik Iran mungkin akan berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan,” ujarnya. Ia menyarankan strategi mengurangi eksposur sebagai langkah paling bijaksana saat ini. “Ini hanya akan bersifat taktis. Saya pikir banyak yang akan mengamati waktu yang tepat untuk kembali berinvestasi,” tambahnya.

Arus Dana Asing yang Menurun

Tekanan jual juga terlihat dari arus dana investor global. Dana asing tercatat melepas saham dalam jumlah besar sejak pekan lalu. Pada Senin pagi, dana asing melepas lebih dari 1 triliun won (US$668 juta) saham Kospi secara bersih. Pada pekan lalu, asing menjual sekitar 14 triliun won.

Lonjakan harga minyak mentah global menjadi faktor utama yang meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar, terutama bagi Korea Selatan yang bergantung pada impor energi. “Lonjakan harga minyak telah menjadi kekhawatiran utama bagi para pedagang di tengah perang yang sedang berlangsung, mengingat potensi inflasi yang lebih tinggi. Lonjakan harga minyak mentah di atas $100 per barel menimbulkan momok kenaikan biaya di Korea, negara pengimpor energi bersih.”

Pergerakan Sektor Energi dan Valuta Asing

Di tengah tekanan pada saham teknologi, saham sektor energi justru mencatat kenaikan signifikan. Saham Daesung Energy Co. melonjak lebih dari 20% pada hari Senin. Di pasar valuta asing, won Korea turut melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Nilai tukar won tercatat turun sekitar 0,7%.

Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Korea Selatan tenor tiga tahun melonjak 20 basis poin. Data Bloomberg menunjukkan bahwa para pedagang kini memperkirakan pengetatan kebijakan moneter oleh bank sentral Korea sekitar 50 basis poin dalam 12 bulan ke depan, meningkat dibandingkan proyeksi sekitar 25 basis poin pada akhir bulan lalu.

Kinerja Indeks Kospi Tahun Ini

Meski pasar mengalami tekanan besar, kinerja indeks Kospi sepanjang tahun ini masih relatif kuat. Indeks Kospi masih naik lebih dari 20% tahun ini, mengalahkan sebagian besar indeks saham global. Investor sebelumnya berbondong-bondong membeli saham Samsung dan SK Hynix karena kebutuhan yang sangat besar akan chip memori mereka seiring dengan terus berlanjutnya pengembangan AI global.

Investor ritel sejauh ini menjadi penopang pasar domestik dengan terus membeli saham di tengah penurunan tajam. Namun demikian, prospek penjualan paksa tetap menjadi kekhawatiran. Pinjaman margin yang belum dilunasi meningkat menjadi lebih dari 33 triliun won. Kondisi tersebut meningkatkan potensi tekanan tambahan jika penurunan harga saham terus berlanjut.

“Meskipun kekhawatiran inflasi semakin serius, penurunan lebih lanjut pada harga saham juga kemungkinan akan meningkatkan peluang terjadinya margin call bagi investor ritel,” kata Shawn Oh, kepala ekuitas tunai Korea di NH Investment & Securities di Seoul.

Balqis Ufairah

Penulis yang fokus pada entrepreneurship dan pengembangan UMKM. Ia senang berkunjung ke pameran bisnis, berbincang dengan pelaku usaha, serta menulis ringkasan peluang pasar. Hobinya termasuk membuat desain sederhana. Motto: “Informasi membuka pintu kesempatan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *