Pemerintah Indonesia Memantau Perkembangan Konflik Timur Tengah
Di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat di kawasan Timur Tengah, pemerintah Indonesia terus memantau situasi tersebut. Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Septian Hario Seto menyampaikan bahwa pihaknya sedang menyiapkan berbagai langkah mitigasi seiring dengan kenaikan harga minyak global akibat konflik tersebut.
Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa serangan militer gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap fasilitas di Iran telah memicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak global. Khususnya, ancaman penutupan Selat Hormuz, yang merupakan jalur ekspor minyak strategis dunia, menjadi perhatian utama.
Seto mengatakan bahwa saat ini, ketidakpastian efek dari konflik tersebut masih cukup tinggi. Oleh karena itu, pemerintah akan terus memantau perkembangan selama seminggu ke depan. Ia menjelaskan bahwa jika konflik bisa segera selesai, dampaknya terhadap sektor energi mungkin akan terbatas.
Harga Minyak Melonjak Akibat Konflik
Harga minyak dunia melonjak tajam setelah serangan Israel dan AS. Berdasarkan laporan Bloomberg pada Senin (2/3/2026), harga minyak Brent melonjak hingga 13% ke level sekitar US$82 per barel. Dalam waktu yang sama, minyak Brent untuk kontrak Mei melompat 12% ke level US$81,37 per barel pada pukul 7.01 pagi waktu Singapura.
Seto menilai bahwa jika konflik dapat diselesaikan lebih cepat, kenaikan harga minyak tidak akan berlanjut secara signifikan. Namun, jika konflik berlarut-larut, maka harga minyak akan terus melambung. Ia juga menekankan bahwa efek kenaikan harga minyak global akan dirasakan oleh seluruh negara.
Strategi Mitigasi Pemerintah
Menurut Seto, salah satu strategi yang diambil oleh Presiden Prabowo Subianto adalah dengan mengurangi ketergantungan pada impor. Salah satu langkah mitigasi yang dilakukan adalah meningkatkan produksi biodiesel serta kebijakan lainnya. Tujuannya adalah untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi.
Namun, Seto tetap mengakui bahwa jika Selat Hormuz ditutup, efek terhadap pasokan dan harga minyak global akan semakin rumit. Ia berharap agar konflik dapat segera selesai dalam beberapa minggu ke depan.
Analisis dari Pengamat Ekonomi
Sebelumnya, pengamat ekonomi energi dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti, menilai bahwa konflik Timur Tengah berpotensi mengerek harga minyak hingga 100%. Dalam analisisnya, skenario konflik yang semakin meluas dapat menciptakan peningkatan harga yang signifikan, terutama jika terjadi retaliasi seperti pembatasan akses atau serangan terhadap infrastruktur minyak.
Menggunakan model Game Theory, Yayan memproyeksikan bahwa harga minyak bisa melonjak di atas 100% dari level dasar. Artinya, harga minyak global bisa mendekati sekitar US$140 per barel pada awal Maret 2026 jika konflik terus meningkat.
Dalam skenario moderat, kenaikan sebesar 25% diprediksi membuat harga mendekati US$87,50 per barel. Bahkan, sebelum itu, range US$70–80 dianggap sangat mungkin terjadi dalam jangka pendek.
Dampak pada Indonesia
Yayan menjelaskan bahwa asumsi harga minyak mentah dalam APBN 2026 adalah pada level US$70 per barel. Oleh karena itu, kenaikan harga minyak global akan memaksa pemerintah melakukan revisi asumsi fiskal. Kenaikan harga minyak global dapat membuat harga BBM di Tanah Air ikut melonjak.
“Kemungkinan harga BBM akan naik sekitar 5% hingga 10% dalam minggu depan, jika eskalasinya berlanjut,” ucap Yayan.











