Inovasi Motif Tenun Ikat Suku Abui oleh Aiptu Charles Maufani
Aiptu Charles Maufani, seorang anggota Polri di Provinsi NTT, berhasil menciptakan desain motif tenun ikat khas Suku Abui, Kabupaten Alor. Karya ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak, termasuk Anggota DPRD Kabupaten Alor, Yohanis Atamai dan Kepala Desa Waimi Metusalak Lakameng.
Kiprah Aiptu Charles Maufani dalam Pembaruan Budaya Lokal
Aiptu Charles Maufani saat ini bertugas di Polsek Amfoang Timur, Polda NTT. Meski tugas utamanya adalah menjaga keamanan masyarakat, ia juga memiliki perhatian terhadap pelestarian budaya lokal. Melalui dedikasinya, ia berhasil menghadirkan kembali motif tenun ikat Suku Abui yang hampir punah.
Menurut Yohanis Atamai, sebagai anak muda Alor dan anggota DPRD, dirinya sangat mengapresiasi usaha Bapak Aiptu Charles Maufani dalam menciptakan motif tersebut. “Saya respek dan apresiasi kepada Bapak Charles Maufani. Meski beberapa kali gagal dalam mendesain motif Suku Abui ini, tetapi beliau tidak patah semangat dan terus berusaha sehingga akhirnya berhasil,” ujarnya.
Proses Pengembangan Motif Tenun Ikat Suku Abui
Yohanis Atamai menjelaskan bahwa proses pengembangan motif ini membutuhkan waktu cukup lama. Dalam kurang lebih tujuh kali percobaan, Aiptu Charles Maufani akhirnya berhasil menyelesaikan desain yang layak diberi hak paten. Bahkan, motif yang dihasilkannya telah mendapatkan pengakuan dari Kementerian Hukum NTT.
“Motif yang didesain itu sangat baik dan layak mendapat hak paten atau Hak Kekayaan Intelektual. Ini bisa memajukan UMKM di Alor,” tambahnya.
Ia juga menyampaikan bahwa sudah melakukan diskusi dengan para penenun di Alor. Menurutnya, para penenun sudah siap untuk memproduksi motif tersebut karena desainnya sudah ada. “Para penenun sudah siap karena desain motifnya sudah ada tinggal ditenun perbanyak,” ujarnya.
Makna dan Nilai Budaya dalam Desain Motif
Terkait makna dari motif yang diciptakan, Yohanis Atamai menyebutkan bahwa motif tersebut sebenarnya adalah motif yang sudah terdegradasi atau hampir punah. Namun, dengan referensi yang dimiliki Aiptu Charles Maufani, akhirnya bisa diangkat kembali.
Apalagi, lanjutnya, motif hasil desain itu memiliki makna tersendiri, khususnya bagi Suku Abui. “Pak Charles memiliki referensi yang cukup banyak terkait motif yang sudah didesain ini. Jadi sebagai anak muda saya mendukung dan tentu dengan keterbatasan anggaran saat ini, tapi pasti kita akan dorong dengan cara kita masing-masing untuk memfasilitasi. Kita akan berupaya, sebab budaya adalah identitas kita atau seseorang,” katanya.
Apresiasi dari Kepala Desa Waimi
Selain Yohanis Atamai, Kepala Desa Waimi, Kecamatan Lembur, Metusalak Lakameng juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Aiptu Charles Maufani. “Saya selaku Kepala Desa Waimi menyampaikan terima kasih dan profisiat kepada bapak Charles Maufani yang sudah mendesain motif tenun ikat Suku Abui,” ujarnya.
Metusalak menilai apa yang dihasilkan oleh anggota polisi asal Alor tersebut merupakan hal yang sangat luar biasa. “Ini suatu penghormatan terhadap budaya Suku Abui, sehingga patut diberi apresiasi kepada bapak Charles Maufani,” tambahnya.
Inspirasi dan Makna dalam Desain Motif
Aiptu Charles Maufani mengatakan bahwa motif yang didesainnya terinspirasi dari Maikeri (sisir bambu perempuan) yang sudah punah atau hilang. Namun, ia berhasil memperoleh referensi dari Buku Cora de Bois dari Amerika pada tahun 1930-1944.
Menurut Charles, ukiran pada motif yang didesain itu memiliki makna:
- Ruol mot (bintang fajar) yang memiliki arti Tara Miti Tomi Nuku
- Kalafi (sayur paku) hasil kekayaan alam
- Silek (buah pohon jarak) yang dijadikan lampu pelita. Ini memiliki makna kehidupan sederhana yang berkelanjutan.
Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."











