My WordPress Blog

Mengapa Perut Keroncongan Saat Puasa? Bukan Selalu Lapar!

Fenomena Bunyi Perut Selama Puasa

Selama masa puasa, mungkin kamu merasa perutmu mengeluarkan suara lebih sering dan kuat dibanding hari-hari biasanya. Suara ini bisa bervariasi dari keroncongan halus hingga gemeretak keras, terutama ketika menunggu waktu berbuka. Meskipun sering dikaitkan dengan rasa lapar, bunyi perut sebenarnya merupakan fenomena fisiologis yang kompleks.

Perut dan usus adalah bagian dari saluran pencernaan yang panjang dan aktif. Mereka bekerja sepanjang hari, bahkan saat perut kosong, untuk memindahkan makanan, cairan, dan gas melalui kontraksi otot yang terkoordinasi. Ketika saluran pencernaan sedang “kosong” namun tetap bergerak, suara itu jadi terdengar lebih jelas.

Dalam konteks puasa, suara-suara ini sering muncul lebih sering karena tubuh sedang dalam fase khusus dari aktivitas pencernaan.

Mekanisme Biologis di Balik Bunyi Perut

Bunyi perut secara medis dikenal sebagai borborygmi, istilah yang digunakan untuk suara rumbling atau gurgling yang berasal dari sistem pencernaan ketika otot-otom di dinding usus dan lambung berkontraksi.

Kontraksi otot ini adalah bagian dari peristalsis, yakni gerakan berulang yang terjadi di sepanjang saluran cerna untuk mendorong makanan, gas, dan cairan ke depan. Walaupun peristalsis terus terjadi sepanjang hari, suara biasanya lebih terdengar ketika saluran cerna kosong. Tanpa lapisan makanan atau cairan untuk “meredam” suara, kontraksi ini menghasilkan bunyi yang lebih nyaring.

Bunyi-bunyi ini bisa terjadi di lambung maupun usus halus dan besar. Seringnya bunyi atau intensitasnya tidak selalu menandakan sesuatu yang patologis, melainkan lebih merefleksikan aktivitas motorik normal dari sistem pencernaan tubuh.

Ada juga mekanisme migrating motor complex

Selain peristalsis dasar, ada mekanisme khusus yang lebih sering aktif ketika saluran cerna kosong lama, seperti saat puasa. Fenomena ini disebut migrating motor complex (MMC), yaitu pola gelombang kontraksi kuat yang terjadi di perut dan usus secara berkala selama fase tidak makan.

MMC berfungsi sebagai “sapu” internal, yang artinya menggerakkan sisa makanan kecil, lendir, dan bakteri dari lambung dan usus halus menuju usus besar, menjaga kebersihan saluran pencernaan antara waktu makan. Aktivitas ini biasanya berlangsung setiap 90–120 menit saat saluran cerna kosong. Gelombang ini menyebabkan kontraksi lebih kuat daripada peristalsis biasa, sehingga menghasilkan suara yang lebih terdengar saat puasa.

Dalam kondisi puasa panjang seperti Ramadan, MMC bekerja lebih sering karena tidak ada makanan yang memecah siklusnya. Hasilnya adalah suara-suara yang sering kali diartikan sebagai perut keroncongan atau sinyal lapar, padahal itu adalah bagian dari proses pencernaan yang normal.

Peran Hormon dan Pola Fisik Saat Puasa

Hormon grelin alias hormon lapar meningkat ketika perut kosong dan ikut merangsang sensasi ingin makan. Meningkatnya grelin bertepatan dengan aktivasi MMC dan peningkatan peristalsis yang terjadi saat tubuh sedang mencari zat gizi. Pergerakan otot-otot pencernaan yang dipicu hormon ini dapat membuat suara lebih intens dan teratur menjelang waktu makan.

Selain itu, ruang kosong dalam saluran cerna saat puasa bertindak seperti ruangan resonansi. Ketika kontraksi otot mendorong gas dan cairan tanpa makanan yang menyerap suara, resonansi itu menjadi lebih jelas, membuat suara terdengar lebih keras di luar tubuh.

Pola Diet, Kebiasaan Sahur, dan Bunyi Perut

Pola sahur yang rendah karbohidrat cepat serap dan tinggi serat mungkin membantu mengurangi intensitas suara perut saat puasa. Serat memperlambat pengosongan lambung dan penyerapan makanan, memberi “isi” lebih lama yang membantu meredam suara dari MMC dan peristalsis.

Minum cairan cukup saat sahur juga memberi volume tambahan di saluran cerna, yang bisa sedikit meredam resonansi suara dibanding saluran cerna yang benar-benar kosong. Hal ini memberikan penyangga terhadap intensitas suara saat perut menunggu asupan berikutnya.

Suara perut selama puasa adalah fenomena fisiologis yang normal. Meskipun sering dikaitkan dengan lapar, tetapi suara ini merupakan bagian dari fungsi tubuh yang sehat, bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan selama tidak disertai gejala lain seperti nyeri hebat atau perubahan kebiasaan buang air besar.

Wahyudi

Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *