My WordPress Blog

Makan gorengan setiap hari selama Ramadan 2026, berisiko?

Ramadan 2026 kembali menjadi momen penting bagi masyarakat Indonesia dalam menjalankan tradisi berbuka puasa. Salah satu menu yang paling populer adalah takjil, terutama gorengan yang memiliki rasa renyah dan mengenyangkan. Selain kurma, gorengan sering menjadi pilihan utama saat azan Magrib berkumandang. Namun, kebiasaan ini menimbulkan pertanyaan tentang dampaknya terhadap kesehatan.

Makan gorengan selama sebulan penuh Ramadan bisa menjadi masalah jika dilakukan secara berlebihan. Berikut penjelasan lengkap dari para ahli gizi dan temuan medis terkait konsumsi gorengan saat berbuka.

Boleh Saja, Asal Tidak Berlebihan

Menurut Ali Khomsan, Guru Besar Bidang Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga IPB University, mengonsumsi gorengan saat berbuka puasa tidak sepenuhnya berbahaya. Kunci utamanya adalah jumlah yang dikonsumsi. Ia menyebutkan bahwa satu hingga dua potong gorengan masih relatif aman. Namun, masalah muncul ketika seseorang mengonsumsinya secara berlebihan hingga merasa kenyang lebih dulu dan tidak lagi berselera makan makanan bergizi seimbang setelah salat Magrib.

Risiko Jika Dikonsumsi Terlalu Banyak

Konsumsi gorengan berlebihan selama Ramadan 2026 dapat meningkatkan risiko kesehatan berikut ini:

  1. Kelebihan Berat Badan

    Gorengan mengandung banyak kalori karena minyak yang diserap. Konsumsi berlebihan dapat memicu kenaikan berat badan. Selain itu, lemak trans dalam gorengan dapat memengaruhi hormon yang mengatur rasa lapar dan penyimpanan lemak.

  2. Risiko Penyakit Kardiovaskular

    Gorengan mengandung lemak jenuh dan lemak trans yang dapat meningkatkan kadar kolesterol darah. Hal ini meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan penyakit jantung koroner.

  3. Risiko Diabetes Tipe 2

    Gorengan umumnya dilapisi tepung tinggi karbohidrat sederhana dan lemak tidak sehat. Studi menunjukkan bahwa konsumsi gorengan yang sering berkaitan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2.

  4. Risiko Kanker

    Proses menggoreng pada suhu tinggi dapat menghasilkan zat akrilamida, yang diduga berkaitan dengan peningkatan risiko beberapa jenis kanker. Selain itu, lemak trans dalam gorengan dapat memicu peradangan kronis dalam tubuh.

Mengapa Gorengan Sebaiknya Dibatasi Saat Buka Puasa?

Selain risiko jangka panjang, ada pula dampak langsung yang bisa dirasakan selama Ramadan 2026 jika berbuka dengan gorengan berlebihan:

  1. Sistem Pencernaan Masih “Kaget”

    Setelah berpuasa 12–14 jam, sistem pencernaan dalam kondisi istirahat. Makanan tinggi lemak membuat lambung bekerja lebih berat secara tiba-tiba, sehingga memicu rasa begah, mual, dan tidak nyaman.

  2. Memicu Asam Lambung Naik

    Makanan berminyak memperlambat pengosongan lambung. Kondisi ini dapat memicu naiknya asam lambung, terutama pada penderita maag.

  3. Meningkatkan Kolesterol

    Minyak yang digunakan berulang kali meningkatkan kandungan lemak jenuh dan trans. Jika kebiasaan ini berlangsung sepanjang Ramadan 2026, kadar kolesterol dapat naik secara signifikan.

  4. Bikin Cepat Ngantuk dan Lemas

    Gorengan tidak serta-merta mengembalikan energi dengan cepat. Lemak membutuhkan waktu lama untuk dicerna, sehingga tubuh justru terasa berat dan mengantuk setelah berbuka.

Pola Buka Puasa yang Disarankan

Untuk tetap sehat selama Ramadan 2026, ahli gizi menyarankan mengawali buka puasa dengan air putih dan kurma atau buah segar secukupnya. Konsumsi gorengan maksimal 1–2 potong saja. Setelah salat Magrib, makan makanan utama yang mengandung karbohidrat, protein, serat, vitamin, dan mineral. Hindari penggunaan minyak jelantah atau minyak yang dipakai berulang kali.

Ramadan 2026 seharusnya menjadi momentum memperbaiki pola makan, bukan justru meningkatkan risiko penyakit. Gorengan tetap boleh dinikmati sebagai bagian dari tradisi berbuka, tetapi dalam jumlah wajar dan diimbangi makanan sehat. Dengan pengendalian porsi dan pilihan menu yang lebih seimbang, Ramadan 2026 dapat dijalani dengan tubuh tetap bugar, ibadah lancar, dan kesehatan tetap terjaga hingga Idulfitri tiba.

Harini Umar

Seorang jurnalis online yang gemar membahas tren baru dan peristiwa cepat. Ia menyukai fotografi jalanan, nonton dokumenter, dan mendengar musik jazz sebagai relaksasi. Menulis baginya adalah cara memahami arah dunia. Motto hidupnya: "Setiap berita harus memberi manfaat, bukan sekadar informasi."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *