Ziarah ke Makam Kyai Sholeh Darat di TPU Bergota, Semarang
Di tengah hujan yang baru saja reda, kompleks TPU Bergota di Randusari, Kecamatan Semarang Selatan masih basah. Aroma tanah lembap menguar di antara deretan nisan. Di tempat ini, banyak peziarah datang untuk berdoa dan mendoakan Kyai Sholeh Darat, seorang ulama besar yang dikenal luas di Jawa.
Dimas Bayu Prabowo, salah satu peziarah rutin, menjelaskan bahwa ia selalu berkunjung ke makam Kyai Sholeh Darat setiap hari Kamis. Meski kini memasuki awal Ramadan, ia tetap menjalankan kebiasaannya. Ia merasa tenang setelah berdoa di sana, dan menilai kegiatan tersebut memberinya rasa lega dan lebih ringan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Kyai Sholeh Darat tidak hanya dikenal sebagai guru dari banyak tokoh penting, tetapi juga sebagai penyebar ajaran Islam di Jawa. Ia dihormati karena keilmuannya dan perannya dalam membumikan ajaran agama. Dimas mengatakan, tujuan ziarahnya adalah untuk mendoakan sang ulama, yang ia anggap sebagai Waliyullah atau Wali Allah, dengan harapan mendapat karomah.
Tradisi Nyadran dan Perkembangan Ziarah
Sumiati, juru kunci makam, menjelaskan bahwa jumlah peziarah biasanya meningkat pada bulan Ruwah atau Syakban, saat tradisi nyadran dilakukan. Namun, meskipun tidak sebanyak saat itu, arus peziarah tetap mengalir setiap hari. Menurutnya, peziarah berasal dari berbagai daerah, termasuk Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.
Ia menyebutkan bahwa rombongan dari Kediri, Lamongan, Surabaya, Pacitan, Indramayu, Cirebon, Kendal, Kaliwungu, Kudus, dan Brebes sering datang. Bahkan, beberapa pejabat pernah berziarah ke makam ini, terutama saat musim Caleg.
Pengaruh Kyai Sholeh Darat dalam Sejarah
Kyai Sholeh Darat lahir di Kedung Jumbleng, Mayong, Jepara, dan dikenal sebagai penerjemah Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa menggunakan aksara Arab Pegon pada masa penjajahan Belanda. Strategi ini menjadi cara untuk menyebarkan ajaran Islam meskipun pendidikan dan pengajian dibatasi oleh pemerintah kolonial.
Selain itu, ia juga produktif menulis kitab, dengan belasan karyanya telah ditemukan. Pengaruhnya semakin kuat karena sejumlah tokoh besar pernah berguru kepadanya, seperti KH Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdlatul Ulama) dan KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah). Raden Ajeng Kartini juga disinyalir kuat sebagai salah satu muridnya.
Pengaruh Kyai Sholeh Darat terhadap Pemikiran Kartini
Menurut Sekretaris Komunitas Pecinta Sholeh Darat (Kopisoda), Mochamad Ichwan, sosok Sholeh Darat bukan hanya sebagai ulama abad ke-19, tetapi juga figur intelektual yang gagasan-gagasannya ikut membentuk cara pandang Kartini tentang pendidikan, pencerahan, dan peran perempuan.
Ichwan menjelaskan bahwa pengaruh itu tidak selalu tertulis secara eksplisit dalam dokumen sejarah. Dalam surat-suratnya, Kartini lebih sering menyebut “Romo Kiai” tanpa nama. Namun, sejumlah penelusuran menunjukkan keterkaitan kuat antara keduanya.
Salah satu momen yang kerap dirujuk adalah ketika Kartini akhirnya memahami makna Surah Al-Fatihah. Sebelumnya, ia sempat mempertanyakan mengapa Al-Qur’an hanya diajarkan untuk dibaca tanpa dijelaskan artinya. Setelah memahami makna Al-Fatihah, Kartini kemudian memanggil kiai, yang diduga kuat adalah Mbah Sholeh Darat.
Dalam berbagai suratnya, Kartini kemudian berulang kali menyinggung gagasan tentang “keluar dari kegelapan menuju cahaya”, yang sejalan dengan makna Surah Al-Baqarah ayat 257. Pemahaman tersebut diyakini diperolehnya dari pengajian sang kiai.
Kitab-kitab dan Gagasan Revolusioner
Sholeh Darat dikenal mengambil langkah berbeda pada masanya. Ketika pengajaran agama identik dengan pesantren dan bahasa Arab, ia justru menulis kitab-kitabnya dalam bahasa Jawa. Sedikitnya 15 karya berhasil diidentifikasi, termasuk Faidh al-Rahman, tafsir Al-Qur’an berbahasa Jawa pertama di Nusantara.
Langkah ini dianggap revolusioner, karena dengan bahasa yang dipahami masyarakat awam, ajaran agama menjadi lebih inklusif. Bagi Ichwan, pola ini selaras dengan semangat Kartini dalam membuka akses pendidikan bagi perempuan.
Pengaruh terhadap Feminisme dan Anti-Penjajahan
Pengaruh Sholeh Darat juga disebut hadir dalam kitab Majmu’at Syari’at al-Kafiyat li al-Awam, yang membahas persoalan fiqih namun dengan penjelasan soal hakikat dan ma’rifat yang harus dikejar setelah seorang mengerti tentang syariat. Menurut Profesor Sri Suhandjati Sukri, feminisme Kartini dipengaruhi oleh kitab ini.
Selain itu, Sholeh Darat juga dikenal tegas dalam sikap terhadap penjajahan. Dalam sejumlah tulisannya, ia mengingatkan umat agar tidak tunduk pada kolonialisme. Semangat anti-penjajahan dan cinta tanah air itu pula yang diyakini menginspirasi murid-muridnya.











