Kondisi Pohon Randu Alas di Desa Tuksongo Memerlukan Penanganan Segera
Pohon Randu Alas (Bombax ceiba L) yang berada di Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, kini dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Hasil kajian ilmiah dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) menyatakan bahwa pohon yang diperkirakan berusia 200–300 tahun tersebut memiliki tingkat risiko ekstrem dan membutuhkan penanganan segera.
Sebagai ikon wisata Desa Tuksongo, pohon ini selama ini menjadi daya tarik bagi pengunjung. Namun, berdasarkan evaluasi kesehatan dan risiko pohon oleh Tim Evaluasi Fakultas Kehutanan UGM, lebih dari 90 persen bagian kayu telah mengalami kerusakan parah dan berada dalam kondisi mati.
Ketua tim kajian, Sri Rahayu, bersama anggota tim Dwi Tyaningsih Adrianti, Tomy Listyanto, dan Suputa, dalam laporannya menyebutkan bahwa secara visual pohon menunjukkan kerusakan berat mulai dari bagian akar, banir, batang hingga tajuk. Tajuk pohon didominasi oleh cabang dan ranting mati yang rapuh serta berpotensi luruh sewaktu-waktu.
Dalam laporan kajian Fakultas Kehutanan UGM disebutkan bahwa dengan kondisi tersebut, pohon Randu Alas memiliki potensi bahaya yang sangat tinggi terhadap keselamatan manusia, bangunan permukiman di sekitarnya, serta kendaraan yang melintas. Dalam matriks penilaian risiko, kegagalan struktur pohon pada bagian akar, batang, maupun tajuk dinilai memiliki dampak yang parah dan sangat mungkin terjadi dalam waktu dekat.
Oleh karena itu, secara keseluruhan peringkat risiko pohon Randu Alas ditetapkan pada kategori ekstrem. Kajian juga mengungkap bahwa kerusakan pohon dipengaruhi oleh serangan organisme pengganggu tanaman, khususnya penggerek batang Batocera hector. Serangan hama tersebut diduga memicu masuknya patogen yang mempercepat kematian jaringan kayu, sehingga pohon tampak meranggas dan rapuh.
Rekomendasi Penanganan Pohon
Sebagai tindak lanjut, tim kajian merekomendasikan tiga opsi penanganan:
- Pemotongan cabang dan ranting secara bertahap hingga dilanjutkan dengan penebangan batang sampai permukaan tanah. Opsi ini dinilai paling aman karena tidak menyisakan risiko lanjutan, meskipun membutuhkan biaya, peralatan, dan tenaga kerja yang besar.
Pemotongan ini harus dilakukan secara hati-hati untuk meminimalkan risiko terhadap lingkungan sekitar.
-
Pemotongan bertahap hingga cabang besar bagian bawah pertama. Risiko residual dari opsi ini dinilai rendah dengan kebutuhan biaya dan sumber daya yang lebih moderat.
-
Mempertahankan sebagian pohon sebagai monumen atau fosil pohon, mengingat nilai historis dan ikonik Randu Alas bagi Desa Tuksongo. Opsi ini berpotensi menjadi aset wisata baru, meskipun memerlukan investasi tinggi dan perencanaan teknis lanjutan.
Selain penanganan pohon, tim juga merekomendasikan pengelolaan kayu hasil penebangan secara detail, mulai dari perlakuan awal pascapenebangan, pengupasan kulit, pengeringan alami, pengawetan kimia, hingga penyimpanan jangka panjang agar kayu dapat dimanfaatkan secara aman dan bernilai guna.
Langkah Selanjutnya
Pemerintah Kabupaten Magelang diharapkan menjadikan hasil kajian ini sebagai dasar pengambilan kebijakan dengan mempertimbangkan keselamatan masyarakat, kelestarian lingkungan, serta potensi pengembangan pariwisata Desa Tuksongo.
Langkah cepat dinilai penting mengingat saat ini masih berada pada musim penghujan dengan intensitas angin yang cukup kuat, yang dapat meningkatkan risiko kegagalan struktur pohon sewaktu-waktu.
Kepala Bidang Pengelolaan Keanekaragaman Hayati dan Kearifan Lokal Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Magelang, Joni Budi Hermanto, mengatakan pihaknya telah berdiskusi dengan Kepala Desa Tuksongo dan DPUPR terkait hasil kajian tersebut.
“Sesuai kajian UGM, pohon tersebut sudah dinyatakan mati dan opsi ketiga yang dipilih (pohon akan ditebang dan dijadikan monumen),” kata Joni.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."











