My WordPress Blog
Budaya  

Jurnal Seorang Jenderal

Pengalaman Menantang dalam Proses Seleksi Kerja



Beberapa waktu yang lalu, seorang teman Kompasianer bertanya-tanya apakah aku sudah berada di Sukabumi. Pertanyaan ini muncul dari tulisan nomadenku saat masih tinggal di Cianjur, yang menyebutkan bahwa keesokan harinya aku akan pindah ke Sukabumi. Pada saat itu, rencana perpindahan memang sudah bulat, tetapi ternyata tidak mendapat izin dari perusahaan induk yang berada di Serang Banten.

Akibatnya, aku terpaksa kembali ke Serang bersama “ordal” perusahaan yang sedang pulang ke kota tersebut, tempat rumah dan keluarganya berada. Jarak rumah sahabat baikku ini cukup dekat dengan tempat tinggalku sekarang, hanya lima menit naik motor.

Seiring berjalannya waktu, aku diwajibkan untuk mengikuti ujian dan wawancara terlebih dahulu di perusahaan induk. Perusahaan ini merupakan perusahaan bonafid asal Jerman. Ada cerita menarik dalam proses ini. Saat aku datang ke kantor perusahaan tersebut, aku sedang sakit flu, hidung meler, bersin-bersin, dan kepala terasa berat. Aku bahkan tidak tahu bahwa aku harus melewati fase ujian dulu, karena awalnya aku mengira hanya wawancara kerja biasa. Akibatnya, tidak ada persiapan sama sekali untuk ujian ini. Aku hanya mengandalkan kemampuan otak saja, apa adanya.

Ujiannya terdiri dari seratusan soal matematika dasar dan logika, serta 20 soal Bahasa Indonesia. Aku benar-benar tidak mempermasalahkannya, malah merasa menikmati prosesnya hingga lupa bahwa aku sedang sakit. Sempat juga tergoda untuk membuka ponselku yang letaknya agak jauh dariku, apalagi tidak ada yang mengawasi. Pengawas dari HRD berada di ruangan sebelah. Namun, aku berhasil mengatasi godaan tersebut.

Seingatku, terakhir kali aku mengikuti ujian seperti ini adalah pada tahun 2007, hampir dua dekade yang lalu, saat mengikuti ujian sertifikasi profesi Medical Representative yang diselenggarakan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) di Jakarta. Alhamdulillah, waktu itu aku langsung lulus. Padahal, menurut teman-teman seprofesi, ujian ini sangat sulit, selain biayanya mahal, banyak di antara mereka yang lulus setelah mengikuti ujian beberapa kali.

Mungkin wajar saja. Selain latar pendidikan ku yang Biologi, aku juga melakukan persiapan selama sebulan penuh di kantor induk perusahaan farmasinya.

Setelah ujian berlangsung selama dua setengah jam, aku keluar ruangan dan baru merasakan rasa sakit kembali. Kedua pelipisku berdenyut sakit, badanku terasa makin lemes. Meskipun begitu, aku harus menunggu pengumuman hasil ujiannya. Jika lulus, akan dilanjutkan dengan wawancara langsung dengan bos besar perusahaan. Setelah menunggu sekitar dua jam, yang diisi dengan makan siang, akhirnya aku kembali ke ruangan ujian dan dinyatakan lulus dengan nilai 95.

Masyaallah, 95! Awalnya aku pikir hanya 80an. Alhamdulillah, kemampuan otakku ternyata masih bagus hehehe. Temanku bilang dia hanya dapat nilai 70an. Dan menurut HRD-nya, jarang ada yang mendapatkan nilai sebesar itu. Sekali lagi, alhamdulillah…

Posisi yang kuincar memang agak berat, sebagai Kepala Produksi. Setelah wawancara, bosnya bilang bahwa dia membutuhkan sosok calon pembanding. Jika memang tidak rezekiku di posisi itu, mungkin akan ditempatkan sebagai Kepala R&D. Insyaallah, besok Selasa, aku akan mengikuti wawancara yang kedua. Jika diterima (amin), aku akan langsung pindah ke Sukabumi dan tinggal di mess perusahaan.

Jadi, semenjak dari Cianjur, aku sudah lebih dari dua minggu di Serang. Sebagian besar waktuku habiskan di kamar saja, tidak kemana-mana kecuali beli makanan, kopi, dan keperluan harian lainnya. Waktuku tidak hanya digunakan untuk rebahan atau tidur-tiduran loh ya hehehe. Malah aku manfaatkan sebaik mungkin dengan menyelesaikan buku pertamaku, “Bioevolusi: Sapiens yang Belum Selesai”, walau prosesnya tidak mudah. Naas, pas lagi butuh, layar laptopku bermasalah. Kebayang gak, gimana melelahkannya mata dan lengan mengedit 100 halaman naskah melalui ponsel? Ampunlah pokoknya hahaha.

Selain itu, aku juga membuat tulisan-tulisan di .

Sadar atau tidak, ternyata aku sedang menerapkan prinsip-prinsip Ikigai secara utuh. Menulis buku di layar ponsel sempit ini jelas adalah passion-ku; aku mencintainya meski melelahkan. Keinginan berbagi gagasan lewat tulisan menjadi mission-ku agar hidup lebih bermanfaat. Sementara itu, tes masuk kerja yang kuhajar dengan nilai 95 tadi adalah validasi profession dan kompetensiku.

Dan jika nanti aku diterima bekerja di pabrik itu, itulah vocation-ku, di mana keahlianku dibayar dengan layak. Jadi, hidup terasa seimbang: ada rezeki yang sedang dijemput lewat karir, dan ada kepuasan batin yang dirawat lewat karya.

Aku memang merasa capek hidup sebagai nomaden selama 14 tahun terakhir ini, apalagi kondisi fisik sudah tidak segar seperti dulu. Sudah saatnya aku settle, dan aku berdoa semoga bisa hidup menetap di Sukabumi, memulai hidup baru bersama keluarga yang juga baru tentunya hehehe.

Doain jugaklah ya. Terima kasih ya good friends…

(Ajuskoto. Serang Banten. 25 Januari 2026)

Halwa Futuhan

Penulis yang rajin memberitakan kegiatan masyarakat lokal dan peristiwa lapangan. Ia gemar berkunjung ke pasar tradisional, memotret aktivitas warga, dan mencatat percakapan menarik. Hobinya termasuk mendengar musik tempo dulu. Motto: “Cerita kecil sering kali memiliki dampak besar.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *