JAKARTA — Perayaan Lebaran Betawi 2026 diadakan dengan nuansa yang lebih sederhana sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi sosial dan dinamika global yang sedang berlangsung.
Ketua Dewan Adat Majelis Kaum Betawi (MKB) Fauzi Bowo menyampaikan bahwa keputusan tersebut dibuat setelah mempertimbangkan situasi dunia yang masih diliputi ketidakpastian, serta kondisi masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, baik secara sosial maupun ekonomi.
“Situasi global saat ini menimbulkan ketidakpastian. Kita juga melihat masih banyak saudara kita yang mengalami kesulitan,” ujar Fauzi dalam perayaan Lebaran Betawi di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Sabtu.
Ia menambahkan bahwa sejumlah faktor turut menjadi pertimbangan, mulai dari dampak bencana alam di dalam negeri hingga konflik kemanusiaan di Jalur Gaza dan ketegangan di kawasan Timur Tengah yang berimbas pada kondisi global.
Menurut Fauzi, penyederhanaan tersebut bukanlah mengurangi makna perayaan, tetapi menjadi momentum untuk meningkatkan empati dan solidaritas sosial di tengah masyarakat. Meski digelar lebih sederhana, ia menegaskan esensi Lebaran Betawi sebagai ruang pelestarian budaya tetap terjaga. Kegiatan ini tidak sekadar seremoni tahunan pasca-Ramadhan, tetapi juga pengingat penting bagi masyarakat Jakarta untuk merawat identitas budaya Betawi.
“Nilai-nilai seperti silaturahmi, gotong royong, kebersamaan, serta penghormatan kepada orang tua harus terus dijaga dan diwariskan,” kata Fauzi.
Salah satu tradisi yang tetap dipertahankan adalah antaran atau sorogan, yakni pemberian simbolis sebagai bentuk penghormatan dari yang muda kepada yang lebih tua maupun dari bawahan kepada atasan.
Fauzi menegaskan tradisi tersebut merupakan bagian dari kearifan lokal Betawi yang sarat nilai moral dan spiritual, bukan bentuk gratifikasi.
“Ini adalah ekspresi takzim dan penghormatan, bukan gratifikasi,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menyebut tradisi tersebut mencerminkan hubungan sosial yang harmonis sekaligus mempererat relasi antargenerasi dan antarlembaga dalam masyarakat.
Perayaan Lebaran Betawi tahun ini juga dirancang sebagai ruang inklusif bagi seluruh warga. Selain halal bihalal akbar, kegiatan ini menghadirkan berbagai atraksi budaya dan kuliner khas Betawi yang dapat dinikmati masyarakat luas.
Dengan mengusung tema “Lebaran Betawi untuk Jakarta: Memperkokoh Persatuan dalam Merawat Tradisi Menuju Jakarta Kota Global”, kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat posisi Jakarta sebagai kota global yang tetap berakar pada nilai-nilai lokal.
Fauzi juga mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan Lebaran Betawi sebagai momentum mempererat persatuan dan menjaga keberagaman sebagai kekuatan bersama.
“Kita harus memperkuat rasa memiliki terhadap Jakarta dan bersama-sama membangun kota ini dengan tetap menjaga nilai-nilai budaya,” ujarnya.
Perayaan Lebaran Betawi 2026 berlangsung pada 10–12 April, diawali dengan malam syukuran yang diisi kegiatan keagamaan, kemudian dilanjutkan dengan berbagai pertunjukan budaya seperti ondel-ondel, tanjidor, silat, hingga lenong Betawi.
Pada hari terakhir, masyarakat juga dapat menikmati beragam kegiatan interaktif, mulai dari permainan tradisional, karnaval budaya, hingga bazar produk UMKM yang menjadi bagian dari upaya mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.











