My WordPress Blog

Posisi Media Konvensional Online di Era Disrupsi

Peran Media Konvensional Online dalam Era Disrupsi Informasi

Di tengah tuntutan masyarakat yang semakin ingin informasi yang cepat dan instan, kecepatan informasi menjadi hal yang tak terhindarkan. Media baru dan media sosial kini menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari masyarakat syber. Berita dapat menyebar dalam hitungan detik, dan siapa pun bisa menjadi sumber berita melalui platform digital dan media sosial yang mereka gunakan.

Pers atau media konvensional yang dulu menjadi satu-satunya sumber informasi, kini harus bersaing dengan kecepatan media sosial dan platform digital lainnya. Era disrupsi informasi ini telah mengubah total lanskap media dan perilaku masyarakat dalam menerima informasi. Pertanyaannya adalah, bagaimana seharusnya media konvensional menyikapi fenomena ini agar tetap eksis di tengah serbuan media baru dan media sosial yang kian kreatif?

Salah satu tantangan utama yang dihadapi oleh pers di era disrupsi adalah penyuguhan informasi yang cepat sesuai selera konsumen. Kelemahan inilah yang dimanfaatkan oleh media online dan media sosial dengan memanjakan konsumen lewat suguhan berita yang cepat dan kreatif. Fakta tersebut relevan dengan data pengguna media sosial aktif yang terus meningkat. Laporan We Are Social pada Januari 2025 mencatat sebanyak 143 juta penduduk Indonesia (meningkat 4 juta pengguna dari tahun 2024) adalah pengguna media sosial aktif, atau setara dengan 50,3 persen dari total populasi.

Tantangan terkait kecepatan informasi sebenarnya sudah mampu dijawab oleh media konvensional dengan cara bermigrasi dan atau berkonvergen dengan media online. Bahkan mereka telah hadir dalam beragam versi platform media sosial yang ada. Media konvensional yang telah bermigrasi inilah yang dalam tulisan ini disebut sebagai “media konvensional online”.

Meski tantangan kecepatan publikasi telah diatasi, bukan berarti bahwa media konvensional online sudah steril dari tantangan yang lainnya. Justru tantangan teranyar bagi mereka adalah terkait dengan menghadirkan berita sesuai selera masyarakat syber dengan tetap mempertahankan kualitas dan standar proses produksi berita yang selama ini memang menjadi kekuatan media konvensional.

Ketika semua media sudah memenuhi syarat kecepatan maka diperkirakan konsumen akan menjadikan akurasi sebagai indikator pertimbangan dalam memilih media yang akan dibaca atau ditontonnya. Apalagi masyarakat makin sadar akan maraknya keberadaan berita hoaks yang berseliweran di jagad maya, yang membuat mereka makin selektif dan kritis dalam memilih media.

Hasil survey Reuters Institute Digital News Report tahun 2025 menemukan bahwa di tengah kepercayaan yang cukup tinggi terhadap media sosial, namun juga ada peningkatan kesadaran akan hoaks dari pengguna media sosial. Data lain menunjukkan bahwa pengguna media sosial (39 %) sering menghindari berita tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat syber mengalami kelelahan informasi.

Dalam kondisi masyarakat syber seperti inilah “media konvensional online” memiliki posisi penting dan prioritas di pikiran dan hati konsumen. Rasionalitas masyarakat syber sebagai konsumen media diprediksi akan terus menguat sehingga peluang media yang akuratif dan berintegritas akan makin menjanjikan.

Institusi media yang dikawal oleh pekerja media profesional dengan prosedur produksi yang ketat akan terus dicari oleh publik. Membranding diri sebagai media akurat, konfirmatif, dan berintegritas sangat penting dilakukan oleh media konvensional online untuk meningkatkan tingkat penerimaannya pada komunitas digital sebagai media dengan pilihan utama, atau setidaknya menjadi media konfirmatif.

Setelah masyarakat berselancar dari media sosial yang satu ke media sosial lainnya maka mereka mengkonfirmasi kebenarannya pada berita dari media konvensional online. Pada saat inilah public trust terhadap media konvensional online semakin meningkat.

Keberadaan media konvensional online dapat menjadi role model media berintegritas untuk menjaga marwah media sebagai sumber informasi terpercaya. Peran ini sangat dibutuhkan untuk meminimalisir penyebaran hoaks yang acap kali terjadi di tengah ambisi aduh cepat informasi, atau di kala para pemilik kepentingan memanfaatkan momentum politik untuk menyebar informasi palsu.

Keberadaan jurnalis-jurnalis profesional sebagai pengawal media konvensional online dapat menginspirasi wartawan-wartawan media online lainnya yang tumbuh bak cendawan di musim hujan tanpa proses seleksi yang ketat. Bahkan inspirasi yang sama dapat ditularkan pada pegiat media sosial, terutama yang memiliki hobi sebagai citizen journalism.

Jika kita tetap yakin bahwa fungsi informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial masih dimiliki oleh media maka asa dapat kita titipkan pada media konvensional online. Informasi-informasi yang mendidik tanpa menghilangkan nilai hiburan sangat diharapkan dari media konvensional online di tengah maraknya informasi “sampah” dari media sosial yang diproduksi tanpa sensor oleh siapa pun.

Peran kontrol sosial yang mengedepankan etika dapat diperlihatkan kepada public oleh media konvensional online untuk mengimbangi cara control sosial tak beretika yang bertebaran di beberapa akun media sosial. “Polusi” dunia maya yang kian tak terkendali saat ini dapat diimbangi dengan penyuguhan informasi berkualitas, terverifikasi, akurat dan berintegritas dari media konvensional online. Semoga…

Faiqa Amalia

Jurnalis yang fokus pada isu pendidikan, karier, dan pengembangan diri. Ia suka membaca buku motivasi, mengikuti seminar online, dan menulis rangkuman belajar. Hobinya adalah minum teh sambil menenangkan pikiran. Motto: “Pengetahuan harus dibagikan, bukan disimpan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *