Dailysurabaya.com CHINA – God’s Eye (Mata Dewa), adalah teknologi otonom terbaru BYD yang mana menghasilkan Tesla panas dingin. Sebab, teknologi ini dihadirkan begitu tidak mahal sehingga bisa jadi digunakan di tempat mobil semurah BYD Seagull yang mana harganya hanya saja Rp150 jutaan.
Padahal, God’s Eye atau sistem DiPilot BYD itu menggunakan teknologi yang dimaksud berjauhan dari sederhana. Sudah menghadirkan fasilitas otonom Level 2 sebagai standar pada EV.
Meskipun Level 2 otonomi (sesuai definisi SAE) memerlukan pengawasan pengemudi, DiPilot BYD juga menggabungkan kemampuan yang didorong oleh Teknologi AI juga perangkat keras yang tersebut dapat ditingkatkan.
Misalnya, DiPilot 100 tingkat pemula memperkuat navigasi jalan raya, inovasi jalur, lalu penghindaran rintangan. BYD berencana untuk menambahkan kemampuan mengemudi perkotaan melalui pembaruan over-the-air (OTA).
Sistem ini juga mencakup parkir valet jarak berjauhan dengan akurasi parkir 2 cm, bahkan dalam model Seagull, ditambah pengereman darurat otonom (AEB) pada kecepatan 100 km/jam.
Sebagai perbandingan, pesaing seperti Tesla mengenakan biaya sekitar USD8.200 untuk paket Full Self-Driving (FSD) dia pada model yang digunakan lebih tinggi mahal.
Langkah BYD ini jelas memberikan tekanan pada rival-rivalnya, termasuk Tesla lalu Xpeng. Setelah pengumuman ini, saham Tesla turun sekitar 6% menjadi USD328,50, sementara saham Xpeng turun mendekati 7%.
Peran DeepSeek R1
Inti dari sistem DiPilot BYD adalah model R1 DeepSeek, mesin Teknologi AI skala besar yang mana awalnya dikembangkan untuk pemrosesan bahasa tetapi diadaptasi untuk menangani tuntutan mengemudi real-time.
Tidak seperti computer vision berbasis aturan tradisional, R1 menggunakan jaringan saraf untuk menafsirkan lingkungan, mendeteksi kemudian mengklasifikasikan objek—mobil, pejalan kaki, marka jalan—dalam berbagai kondisi cuaca atau pencahayaan. Selain persepsi, R1 dapat mengupayakan pengambilan langkah juga membantu memprediksi kemungkinan manuver seperti inovasi jalur atau pengereman. Ia juga dapat mengenali bahaya jalan serta menghasilkan penilaian risiko sepersekian detik.
Arsitektur Xuanji BYD
Sistem DiPilot didasarkan pada Arsitektur Xuanji BYD, yang tersebut digambarkan mempunyai “satu otak, dua ujung, tiga jaringan, juga empat rantai.”
Dengan kata lain, ia mengintegrasikan prosesor pusat, Kecerdasan Buatan awan, Artificial Intelligence sisi kendaraan, serta jaringan sensor, semuanya terhubung ke DeepSeek R1 untuk menyokong kemampuan pengambilan tindakan real-time.
DiPilot mengintegrasikan persepsi yang tersebut didorong oleh Artificial Intelligence di tiga tingkatan perangkat keras (termasuk LiDAR pada model premium), semuanya menerima pembaruan OTA.











