Ekspedisi Spesies Laut Bermigrasi 2025 di Bentang Laut Sunda Kecil
Ekspedisi Spesies Laut Bermigrasi 2025 di Bentang Laut Sunda Kecil berhasil mencatatkan pencapaian penting dalam riset megafauna laut. Tim peneliti gabungan dalam ekspedisi tersebut berhasil memasang tag satelit pada paus biru kerdil di Laut Sawu menggunakan drone. Data awal yang diperoleh menunjukkan bahwa paus tersebut melakukan migrasi sejauh lebih dari 2.000 kilometer hanya dalam sembilan hari.
Pemasangan tag satelit pada paus biru kerdil dilakukan tepatnya pada 13 Oktober 2025, sementara sinyal terakhir diterima pada 22 Oktober 2025. Rekaman pergerakan paus tersebut memberikan gambaran konkret tentang luasnya wilayah jelajah spesies ini, sekaligus menegaskan bahwa pelindungan satwa migrasi membutuhkan pendekatan berbasis data dan lintas wilayah.
“Meski hanya satu dari empat yang direncanakan yang berhasil terpasang, tetapi ini dapat membuktikan bahwa pemasangan tag satelit berbasis drone yang less-invasif bisa dilakukan. Metode ini lebih minim risiko dibanding pendekatan konvensional,” kata Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia, Iqbal Herwata, melalui keterangan tertulis dikutip pada Senin, 30 Maret 2026.

Ekspedisi Spesies Laut Bermigrasi oleh tim peneliti gabungan di Bentang Laut Sunda Kecil pada Oktober 2025. Ekspedisi melibatkan drone untuk memasang tag satelit pada paus. Dok. Konservasi Indonesia
Iqbal, yang juga menjadi lead dalam ekspedisi ini, menjelaskan bahwa Bentang Laut Sunda Kecil merupakan penghubung Samudra Hindia dan Pasifik yang berada di dalam kawasan Segitiga Terumbu Karang dunia. Dinamika arus dan topografi bawah lautnya menciptakan wilayah yang produktif dan menjadi jalur migrasi penting bagi paus, lumba-lumba, dan hiu paus.
Selama ini, Iqbal menambahkan, keterbatasan data membuat banyak kebijakan pengelolaan satwa migrasi disusun dengan informasi yang belum utuh. “Jalur migrasi, area istirahat, hingga lokasi penting untuk mencari makan belum sepenuhnya terpetakan,” kata dia.
Atas dasar itulah dilakukan ekspedisi ini difasilitasi Konservasi Indonesia. Di dalamnya melibatkan peneliti dari Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kupang, Conservation International Timor Leste, Dinas Kelautan dan Perikanan Nusa Tenggara Timur, Dinas Kelautan dan Perikanan Maluku, Elasmobranch Institute Indonesia, James Cook University, Thrive Conservation, Universidade Nacional Timor Lorosa’e, Universitas Muhammadiyah Kupang, dan Universitas Tribuana Kalabahi.
Mereka bergabung untuk sekaligus bertukar pengetahuan dan menguatkan kapasitas riset kelautan. Salah satu kunci dalam ekspedisi ini adalah penggunaan tag satelit berjenis LIMPET yang dirancang berdampak minimal bagi paus.
Edy Setyawan, peneliti dari Elasmobranch Institute Indonesia, menjelaskan tag yang digunakan memiliki dua anak panah sepanjang sekitar tujuh sentimeter agar bisa menancap di bawah kulit paus. Tantangan terbesarnya, menurut dia, presisi dan waktu karena area pemasangan pada tubuh paus yang dibidik dari drone hanya terekspos maksimal dua detik di atas permukaan air.
“Tag itu harus menancap di belakang blowhole (lubang sembur) dan di depan dorsal fin,” kata dia. Ditambahkannya pula, “Dengan waktu yang hanya sekejap itu, sudah pasti angin, gelombang, dan pergerakan paus akan sangat memengaruhi peluang keberhasilan.”

Ekspedisi Spesies Laut Bermigrasi oleh tim peneliti gabungan di Bentang Laut Sunda Kecil pada Oktober 2025. Ekspedisi melibatkan drone untuk memasang tag satelit pada paus. Dok. Konservasi Indonesia
Rusydi, perwakilan peneliti dari Universitas Muhammadiyah Kupang, menambahkan bahwa melalui ekspedisi ini para periset juga mencatat adanya variasi perilaku paus biru di beberapa lokasi. Dia menjelaskan, di tenggara Pulau Wetar beberapa paus teramati sedang logging atau beristirahat di permukaan. Sementara di Laut Sawu, paus cenderung terus bergerak kecuali di area tertentu seperti seamounts.
“Temuan ini tentu saja memperkaya pemahaman tentang penggunaan habitat oleh paus biru di kawasan timur Indonesia,” tutur dia.
Sepanjang ekspedisi, tim juga mencatat sekitar 10–12 spesies megafauna laut. Beberapa perilaku kawin pada spinner dolphin dan melon-headed whale juga terdokumentasi. Informasi ini dinilai penting untuk memahami musim biologis dan kebutuhan habitat spesies migrasi.
Menurut Rusydi, data pergerakan paus memiliki implikasi langsung pada kebijakan. Jalur migrasi, dia menjelaskan, dapat dibandingkan dengan jalur pelayaran, area penangkapan ikan, dan lokasi rumpon untuk mengidentifikasi potensi tumpang tindih dan risiko bagi paus.
“Wilayah dengan tingkat sighting tinggi perlu pengelolaan khusus. Data ini membantu penyusunan kebijakan wisata pengamatan paus agar tetap berkelanjutan dan tidak mengganggu satwa,” kata Rusydi.
Sementara itu, Marine Science Specialist Conservation International Timor-Leste, Jafet Potenzo, menilai kolaborasi ilmiah seperti ini memperkuat hubungan kedua negara melalui riset ilmiah di sepanjang perbatasan laut, di dalam koridor cetacean saat musim migrasi. “Ini juga menjadi kesempatan berharga bagi masyarakat Timor-Leste untuk belajar mengelola sumber daya laut secara berkelanjutan,” ujarnya.











