Jasa Titip Nyekar dan Rawat Makam yang Viral di Media Sosial
Laifa, seorang wanita muda berusia 27 tahun, kini menjadi sorotan setelah menawarkan jasa titip membersihkan makam dan mendoakan di media sosial. Layanan unik ini kini viral dan ramai dibicarakan, dengan sudah terima pesanan dari belasan orang. Tarif yang ditetapkan Laifa adalah Rp 50 ribu untuk pembersihan makam, dan tambahan Rp 50 ribu jika ingin doa juga dipersembahkan.
Jasa yang terbilang tidak biasa ini awalnya muncul dari sebuah permintaan seseorang yang tinggal di luar Jawa. Laifa mendapat pesan melalui media sosial, meminta bantuan untuk membersihkan makam ibunya di Sidoarjo. Esok harinya, ia pun berangkat dari tempat tinggalnya di Siwanlankerto, Surabaya, menggunakan pakaian serba hitam. Ia membawa perlengkapan seperti sapu lidi, gunting, kantong plastik, lap basah dan kering, serta bunga tabur segar yang dibeli dari pedagang di pinggir jalan.
Di TPU Waru, Sidoarjo, Laifa mulai membersihkan makam yang terletak di bawah pohon kamboja. Ia menyapu daun-daun basah, mencabut rumput liar, dan mengelap nisan yang tertutup tanah. Setelah itu, ia menaburkan bunga warna-warni dan menyiram air segar ke makam tersebut. Setelah selesai, Laifa mengirimkan doa sesuai keyakinannya dan beberapa foto singkat ke keluarga pemilik makam.
Awal Mula Jasa Titip Nyekar
Laifa mulai membuka layanan “Jastip Nyekar Rawat Makam” sejak pertengahan Ramadhan 2026. Ide ini muncul saat ia sedang scrolling TikTok dan melihat ojek online yang menerima pesanan nyekar. Dari situ, ia terinspirasi untuk menciptakan layanan yang bisa menjadi “tangan sambungan” bagi kasih sayang yang terhalang jarak.
Awalnya, Laifa hanya menawarkan jasa nyekar dan rawat makam melalui media sosial Threads. Tujuannya adalah untuk anak rantau yang tidak bisa mudik Lebaran tetapi ingin berkunjung ke makam keluarga. Tarif yang ditetapkan adalah Rp 50.000 untuk pembersihan dan kirim doa. Namun, awalnya ada pro dan kontra karena penambahan biaya untuk baca yasin. Akhirnya, banyak yang menyarankan agar fokus pada nyekar dan perawatan makam saja.
Batasan Lokasi dan Identitas Makam
Laifa hanya menerima pesanan untuk makam yang lokasinya maksimal 10 kilometer dari tempat tinggalnya di Surabaya. Identitas makam harus bisa diketahui melalui papan nama nisan yang masih terbaca. Jika ia kesulitan menemukan lokasi makam, Laifa akan bertanya kepada juru kunci.
Selain menerima jasa nyekar dan rawat makam Islam, Laifa juga menerima pesanan dari non-muslim. Ia menjelaskan bahwa untuk makam non-muslim, fokus hanya pada perawatan saja.
Kesulitan dan Respon Positif
Laifa mengaku animo pesanan cukup ramai, dengan banyaknya orderan yang masuk lewat direct message. Teman terdekatnya menyarankan agar side job ini dijalankan secara serius. Bahkan, ada yang terinspirasi untuk membuka jasa serupa di area Jabodetabek.
Awal Mula Kerinduan Ziarah ke Pusara Ayah
Selain terinspirasi dari pesanan ojol, Laifa juga merasakan kerinduan sulitnya datang langsung ke pusara ayahnya. Beberapa tahun lalu, ia merantau dari Lampung ke Jombang Jawa Timur dan tinggal bersama neneknya untuk melanjutkan sekolah. Lalu, ia melanjutkan kuliah di Surabaya dan bekerja di Kota Pahlawan.
Pada tahun 2017, Laifa merasa terguncang ketika mendapat notifikasi pesan bahwa ayahnya meninggal di Lampung. Karena delay pesawat, ia telat dan tidak bisa ikut memakamkan ayahnya. Setelah kembali ke Surabaya, keinginan untuk mengunjungi makam ayah selalu terlintas. Perasaan itu hanya bisa terobati dari foto makam setelah nyekar yang dikirim oleh ibu dan adiknya.
Perasaan dan Kepercayaan
Laifa merasa senang bisa membantu orang lain menyampaikan pesan dan menjadi jembatan rindu ke makam orang tersayang karena terhalang jarak. Ia merasa nyaman dalam menjalani pekerjaan sampingan ini. Disentuhnya nisan yang dingin dan mencium aroma tanah basah dan bunga segar membuatnya percaya bahwa makam adalah rumah terakhir yang perlu dirawat.
“Saya melihat makam seperti rumah terakhir yang bisa kita kenang dan harus kita rawat bukan dibiarkan terbengkalai begitu saja,” ujarnya.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."











