Kehidupan Imam: Dari Dipasung ke Mandiri
Imam (35), seorang penyintas orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) asal Lamongan, kini telah berhasil bangkit dan mandiri. Ia mampu menabung sebesar Rp50 juta melalui berbagai pekerjaan seperti kuli bangunan, buruh tani, dan peternak. Kisahnya menjadi contoh bahwa dengan penanganan yang tepat dan dukungan lingkungan, penyintas ODGJ dapat pulih dan hidup layak.
Momen mengharukan terjadi di kediaman Kanit Binpolmas Satbinmas Polres Lamongan sekaligus pemilik Yayasan Berkas Bersinar Abadi, Ipda Purnomo. Ia kedatangan tamu spesial, yakni Imam (35), penyintas ODGJ asal Desa Sidodowo, Kecamatan Modo, Lamongan, yang pernah menjalani perawatan di yayasan tersebut.
Imam yang dulunya sempat dipasung dan dirantai akibat gangguan jiwa, kini telah pulih dan mandiri. Ia mendatangi kediaman Ipda Purnomo untuk bersilaturahmi sekaligus menunjukkan hasil kerja kerasnya.
“Kemarin (Jumat, 27/3/2026) Mas Imam itu datang ke rumah saya halalbihalal, sambil bawa uang Rp50 juta,” kata Purnomo.
“Saya sendiri juga sempat kaget awalnya, tapi kemudian dia cerita ingin bangun rumah,” tambahnya.
Hasil Kerja Keras Menjadi Buruh dan Kuli
Ipda Purnomo menjelaskan, uang puluhan juta tersebut hasil kerja keras Imam. Setelah dinyatakan stabil dan kembali ke masyarakat, Imam menekuni berbagai pekerjaan demi menyambung hidup.
“Jadi setelah mulai sembuh itu Mas Imam pulang, dan kerja pelihara kambing, kerja di penggilingan padi, jadi kuli bangunan, bantu-bantu di sawah saat panen.”
“Uangnya (hasil bekerja) dikumpulkan semuanya,” jelas Purnomo.
Ketekunan Imam berbuah manis. Selain mampu mengumpulkan Rp50 juta untuk membangun rumah tembok pada April mendatang, ia juga telah berhasil membeli sebuah sepeda motor dari tabungannya.
“Halalbihalal, sekalian pamit mau akan bangun rumah dari uang yang sudah dikumpulkan,” ucapnya.
Dukungan dan Apresiasi Ipda Purnomo
Mendengar perjuangan mantan pasiennya, Ipda Purnomo tak kuasa menahan haru. Sebagai bentuk dukungan, ia memberikan tambahan modal sebesar Rp20 juta agar pembangunan rumah Imam berjalan lancar.
“Sebagai bentuk apresiasi dan dorongan semangat, saya memberi bantuan tambahan sebesar Rp20 juta, untuk membantu kelancaran pembangunan rumah Mas Imam,” ujar Purnomo.
Menurut Purnomo, keberhasilan Imam adalah bukti nyata bahwa penyintas ODGJ memiliki harapan untuk hidup layak jika mendapat penanganan yang tepat.
“Ini adalah bukti bahwa mereka yang pernah terpuruk bisa bangkit kembali, asalkan diberikan kesempatan dan dukungan yang tepat. Mas Imam adalah inspirasi bagi kita semua,” ungkapnya.
Pernah Dirantai
Kini, kondisi Imam berbanding terbalik dengan tiga tahun lalu saat masih mengalami gangguan jiwa. Bahkan, keluarga terpaksa merantainya di halaman rumah.
Ipda Purnomo yang mendapat informasi tersebut segera melakukan mediasi. Setelah keluarga sepakat, Imam dievakuasi untuk menjalani perawatan intensif.
“Tiga tahun lalu (dievakuasi, red). Saya rawat enam bulan, kemudian pengobatan lanjutan satu tahun,” ujar Purnomo.
Meski sudah kembali ke kampung halaman, Imam tetap disiplin menjalani rawat jalan dan kontrol medis secara rutin untuk menjaga stabilitas psikisnya.
“Sekarang obat jalan, hampir stabil sehat pulih. Dia tahu kalau sakit, jadi selalu kontrol,” ucapnya.
Melalui kisah Imam, Ipda Purnomo menekankan pentingnya menghapus stigma terhadap penyintas ODGJ. Dukungan lingkungan dan akses pengobatan adalah kunci agar mereka bisa kembali berdaya dan bermanfaat bagi sesama.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."











